26 April 2008

Baik-baik Memilih Intan

Air surut memungut bayam
Sayur diisi di dalam kantung
Jangan diikut resmi ayam
Bertelur sebiji riuh sekampung

Alang-alang menjeruk asam
Biar lebih jangan kurang
Alang-alang menyeluk pekasam
Bia sampai ke pangkal lengan

Anak merbah terlompat-lompat
Anak indung ketitiran
Yang dilelah tidak dapat
Yang dikendung keciciran

Asam kandis asam gelugur
Ketiga asam si riang-riang
Menangis mayat di pintu kubur
Teringat badan tidak sembahyang

Baik-baik menanam selasih
Jangan sampai jatuh ke tanah
Baik-baik memilih kekasih
Jangan sampai badan merana

Asal kapas menjadi benang
Dari benang mejadi kain
Barang lepas jangan dikenang
Sudah menjadi hak orang lain

Baik-baik mengail tenggiri
Takut terkena siikan parang
Baik-baik merendah diri
Jangan menjadi hamba orang

Berburu ke padang datar
Dapat rusa berbelang kaki
Berguru kepalang ajar
Bagai bunga kembang tak jadi

Biduk laksamana menuju barat
Arus menyongsong dari haluan
Pakailah dunia untuk akhirat
Harta yang banyak jadi rebutan

Bintang tujuh sinar berseri
Bulan purnama datang menerpa
Ajaran guru hendak dicari
Mana yang dapat janganlah lupa

Buah mangga melendur tinggi
Buah kuini berangkai tiga
Hidup kita tidur dan mati
Sudah mati baru terjaga

Buah rambai buah rambutan
Masak sebiji di hujung dahan
Jangan dipikat burung di hutan
Burung di rumah mati tak makan

Buat bangsal di Pulau Daik
Menahan taut sambil mengilau
Kalau asal benih yang baik
Jatuh ke laut menjadi pulau

Budak-budak bermain tombak
Tombak diikat dengan rantai
Kalau takut dilambung ombak
Jangan berumah di tepi pantai

Burung merbuk terbang melayang
Hinggap bertenggek di dahan mati
Kalau menepuk air di dulang
Nanti mercek ke muka sendiri

Halia ini tanam-tanaman
Ke barat juga akan condongnya
Duni ini pinjam-pinjaman
Akhirat juga akan sungguhnya

Hari panas mencucuk benang
Benang menjahit baju kebaya
Air jernih lubuknya tenang
Jangan disangka tiada buaya

Kalau tahu peria tu pahit
Tidak ku gulai dengan petola
Kalau tahu bercinta tu sakit
Tidak ku mulai dari semula

Kalau tuan pergi ke Kelang
Belikan saya semangkuk rojak
Jangan diturut resmi kiambang
Sungguhpun hijau akar tak jejak

Pisang kelat digonggong helang
Jatuh ke lubuk di Indragiri
Jika berdagang di rantau orang
Baik-baik menjaga diri

Kayu besar kayu penaga
Kayu kecil dahannya runduk
Kalau besar jangan melanda
Kalau kecil jangan menunduk

Pinang Mengadap Sirih Menyembah

Bukan lebah sebarang lebah
Lebah bersarang di pohon kayu
Bukan sembah sebarang sembah
Sembah adat pusaka Melayu

Bukan lebah sebarang lebah
Lebah bersarang di rumpun buluh
Bukan sembah sebarang sembah
Sembah menyusun jari sepuluh

Ikan berenang di dalam lubuk
Ikan belida dadanya panjang
Ada pinang pulang ke tampuk
Adat sirih pulang ke gagang

Burung Jelatik burung Jeladan
Kunang-kunang di sarang tempua
Sama cantik sama padan
Bagai pinang dibelah dua

Ayam sabung jangan dipaut
Jika dipaut kalah laganya
Asam di gunung ikan di laut
Dalm belanga bertemu juga

Banyak kelok ke Penarik
Kelok tumbuh pohon Kuini
Nan elok bawalah balik
Nan buruk tinggal di sini

Bunga telepok kembang separak
Kembang bersusun setiap batang
Awan bertepuk mega bersorak
Bulan terbit di pagar bintang

Hisap rokok tembakau Cina
Keluar asap berbunga-bunga
Wahai cik adik abang bertanya
Cincin di jari siapa yang punya

Kain batik baju batik
Batik datang dari Jawa
Adik cantik abang cantik
Bagai pinang dibelah dua

Kalau ada kaca di pintu
Katang-katang berisi rempah
Kalau ada kata begitu
Saya tatang di hujung lidah

Kalau padi katakan padi
Tidak saya tertampi-tampi
Kalau sudi katakan sudi
Tidak saya ternanti-nanti

Laksamana berempat di atas pentas
Cukup berlima dengan gurunya
Bagaikan dakwat dengan kertas
Sudah berjumpa dengan jodohnya

Membeli papan di tengah pekan
Papan kecil dibuat tangkal
Mengapa umpan ikan tak makan
Adakah kail panjang sejengkal

Rumah limas anjung Selatan
Bunga kemuning tumbuh di laman
Tangkainya emas bunganya intan
Bolehkah ranting hamba patahkan

Sudah lama langsatnya condong
Batu kini di Rampaian
Sudah lama niat dikandung
Baru kini kesampaian

Tuk Sami ke Teluk Lipat
Kain sekodi dibawa sama
Datang kami membawa hajat
Kalau sudi minta terima

Tumbuh betik di tepi laman
Pokok berangan pokok teruntum
Sungguh cantik bunga di taman
Bolehkah gerangan petik sekuntum

Budi Baik Di Kenang Jua

Asam kandis mari dihiris
Manis sekali rasa isinya
Dilihat manis dipandang manis
Lebih manis hati budinya

Ayam hutan terbang ke hutan
Tali tersangkut pagar berduri
Adik bukan saudara bukan
Hati tersangkut kerana budi

Ayam rintik di pinggir hutan
Nampak dari tepi telaga
Nama yang baik jadi ingatan
Seribu tahun terkenang juga

Baik bergalas baik tidak
Buli-buli bertali benang
Baik berbalas baik tidak
Asal budi sama dikenang

Bila memandang ke muka laut
Nampak sampan mudik ke hulu
Bila terkenang mulut menyebut
Budi yang baik ingat selalu

Bunga melati bunga di darat
Bunga seroja di tepi kali
Hina besi kerana karat
Hina manusia tidak berbudi

Burung Serindit terbang melayang
Mari hinggap di ranting mati
Bukan ringgit dipandang orang
Budi bahasa rangkaian hati

Di sana padi di sini padi
Padi huma dari seberang
Di sana budi di sini budi
Barulah nama disebut orang

Jeruk manis dimakan manis
Manis sekali dengan kulit bijinya
Dilihat manis dipandang manis
Manis sekali hati budinya

Jikalau ada lenggundi pahit
Belanga baru saya jerangkan
Jikalau ada budi yang baik
Menjadi abu saya kenangkan

Kapal nelayan belayar ke seberang
Sampan kolek mudik ke hulu
Kalau budi dikenang orang
Mengapa dagang terbuang lalu

Pisang nangka dimasak pengat
Kait-kait banyak durinya
Macam mana saya tak ingat
Orang baik dengan budinya

Salam Perkenalan

Sirih berlipat sirih pinang
Sirih dari Pulau Mutiara
Pemanis kata selamat datang
Awal Bismillah pembuka bicara

Tetak buluh panjang suluh
Mari jolok sarang penyengat
Angkat doa jari sepuluh
Doa minta biar selamat

Tuailah padi antara masak
Esok jangan layu-layuan
Intailah kami antara nampak
Esok jangan rindu-rinduan

Dari jauh ke permatang
Tetak dengan papan kemudi
Dari jauh kami datang
Mendengar tuan yang baik budi

Hanyut perian bertali rumin
Penuh berisi gala-gala
Tuan sepantun kilat cermin
Di balik gunung tampak jua

Hendak dulang diberi dulang
Dulang berisi sagu mentah
Hendak pulang ku beri pulang
Tinggalkan pantun barang sepatah

Hendak dulang diberi dulang
Dulang ada berpahar tidak
Hendak pulang ku beri pulang
Pulang sahaja berhantar tidak

Kembang cendawan di tengah padang
Tempat cik Siti memacu kuda
Pada bulan baik bintang
Sungguh kecil selalu ada

Lancang kuning lancang pusaka
Nampak dari Tanjung Puan
Kalau kering laut Melaka
Barulah saya lupakan tuan

Mangkuk jorong pinggan jorong
Si jorong berisi buah jati
Dua tiga kata terdorong
Jangan dibawa masuk ke hati

Sekuntum bunga di dalam padi
Ambil sebatang cabut uratnya
Tuan sepantun langit yang tinggi
Bolehkah berlindung di bawahnya

Hilang Di Mata Di Hati Jangan

Asap api embun berderai
Patah galah haluan perahu
Niat hati tak mahu bercerai
Kehendak Allah siapa yang tahu

Air dalam bertambah dalam
Hujan di hulu belumlah teduh
Hati dendam bertambah dendam
Dendam dahulu belumlah sembuh

Anak punai anak merbah
Hinggap ditonggak mencari sarang
Anak sungai lagikan berubah
Inikan pula hati orang

Apa guna pasang pelita
Jika tidak dengan sumbunya
Apa guna bermain mata
Kalau tidak dengan sungguhnya

Buih kuini jatuh tercampak
Jatuh menimpa bunga selasih
Biar bertahun dilambung ombak
Tidak ku lupa pada yang kasih

Kajang tuan kajang berlipat
Kajang hamba mengkuang layu
Dagang tuan dagang bertempat
Dagang hamba terbuang lalu

Buah jambu disangka kandis
Kandis ada di dalam cawan
Gula madu disangka manis
manis lagi senyuman tuan

Buah jering di atas para
Diambil budak bawa berlari
Kering laut tanah Melaka
Baru saya mungkirkan janji

Dari Arab turun ke Aceh
Naik ke Jawa berkebun serai
Apa diharap pada yang kasih
Badan dan nyawa lagi bercerai

Burung terbang menarik rotan
Lalu hinggap di kayu Jati
Tujuh gunung tujuh lautan
Belum dapat belum berhenti

Bunga Melati terapung-apung
Bunga rampai di dalam puan
Rindu hati tidak tertanggung
Bilakah dapat berjumpa tuan

Bunga Cina jambangan Cina
Bungkus inai dalam kertas
Sungguh saya bena tak bena
Di dalam hati haram tak lepas

15 April 2008

Pantun Dalam Adat Riau

Pantun Dalam Adat Riau - melukiskan betapa pentingnya bentuk puisi lama ini dipakai dalam kehidupan masyarakat Melayu Riau. Pantun tersebut berbunyi:

Secantik seelok inilah parak
Tak berdasun barang sebuah
Secantik seelok inilah awak
Tak berpantun barang sebuah

Bahkan ada sebutan "Jangan merasa menjadi melayu kalau tidak bisa berpantun"
Berbagai pendapat mengenai asal dan makna pantun dikemukakan di sini. Ada yang berpendapat bahwa makna pantun sama dengan “umpama” dalam masyarakat Batak. Sementara ada yang berpendapat bahwa kata pantun berasal dari pa-tuntun (pa-tuntun = penuntun), sebagaimana dikemukakan oleh Zuber Usman1). Sementara itu A. A. Navis (1985) dalam bukunya Alam Terkembang Jadi Guru menjelaskan bahwa perubahan bunyi pa-tuntun menjadi “pantun” adalah hal yang lazim dalam bahasa Melayu dan Minangkabau, seperti halnya kata “rumput-rumput” menjadi “rerumput” dan “laki-laki” menjadi “lelaki”. Beberapa pantun Melayu sendiri menunjukkan bahwa kata sepantun sama dengan seumpama, seperti pada ungkapan, “Kami sepantun anak itik, kasih ayam maka menjadi” atau “Tuan sepantun kilat cermin, di balik gunung tampak jua”.

Sejumlah ahli bahasa dan ahli antropologi berpendapat bahwa pantun merupakan bentuk lanjutan dan pertumbuhan dari peribahasa dan perumpamaan. Kalimat perumpamaan diberi pengantar yang bunyi dan maknanya sangat mirip. Kalimat pengantar tersebut bukan seperti sampiran dalam pantun. “Sampiran sebuah pantun adalah kiasan dari isi pantun, sementara isi pantun adalah kiasan tentang sesuatu,” kata A. A. Navis2). Chairul Harun lebih luas berpendapat bahwa sampiran sebuah pantun mengungkapkan sesuatu dari dunia makro, sementara isinya mengungkapkan sesuatu dari dunia mikro.

Sebuah ungkapan lama yang berbunyi “Kerbau tahan palu, manusia tahan kias” tampaknya memang menyimpulkan bahwa pantun adalah alat untuk membuat kias. Dalam percakapan sehari-hari masyarakat Melayu, orang mengemukakan pendapatnya dengan pantun, dan lawan bicara sudah maklum dengan maksud pembicara. Dengan demikian pantun merupakan salah satu alat komunikasi yang cukup efektif untuk mengemukakan pendapat atau melancarkan kritik. Hal ini sudah mentradisi dalam masyarakat Melayu sejak zaman dahulu. Pertanyaan yang muncul kenapa pantun dan bukan hasil kesusastraan yang lain? Oleh karena pantun adalah hasil kesusastraan yang pandai “mencubit” tanpa menimbulkan “rasa sakit”. Kias yang dibiaskan pantun langsung mencapai sasaran tanpa menjatuhkan marwah orang yang dituju. Cara mengemukakan pendapat dan melancarkan kritik seperti itu merupakan salah satu sikap orang Melayu Riau. Jadi, bukan makna atau arti pantun yang melibatkan sikap hidup si pemakai, seperti pendapat yang berkembang selama ini.

Tudung periuk pandai(lah) menyanyi
Ditarikan oleh putra mahkota
Kain yang buruk berikan kami
Untuk menyapu si air mata

Pantun di atas sebenarnya tergolong pantun orang muda yang berisi ratapan tentang patah cinta. Kias yang dibiaskan lambang-lambang dalam pantun tersebut mengandung makna positif.

Pantun-pantun Melayu sarat dengan lambang-lambang. Kekurangtahuan makna lambang-lambang antropologis yang tersurat dalam pantun akan menyesatkan penarikan hakekat yang dikandungnya, karena lambang-lambang yang tersurat selalu mengandung makna tersirat, bahkan ada kalanya tersuruk atau tersembunyi. Orang awam, orang yang ahli, dan orang yang arif bijaksana akan memaknai kiasan sebuah pantun secara berlainan.

Pada pantun Tudung Periuk di atas, kata “periuk” melambangkan kehidupan, seperti dalam nasihat orang tua-tua yang berbunyi, “Hati-hatilah, nanti tertelungkup periuk nasimu.” Maksud nasihat itu ialah agar senantiasa berhati-hati dan waspada dalam menjalani hidup ini. Jika menjadi pegawai negeri, jangan membuat kesalahan seperti korupsi, kurang rajin, dan sebagainya. Kata “menari” atau “ditarikan” sama dengan “bermain” atau “dipermainkan”.

“Putra mahkota” melambangkan generasi muda atau generasi penerus. Makna keseluruhan nasihat yang dicontohkan di atas berarti bahwa bila hidup ini dipermainkan oleh generasi muda, atau generasi muda suka bermain-main dalam menjalani kehidupannya, maka hanya kain buruklah yang akan tinggal padanya. Kain buruk sebagai lambang sesuatu yang sudah terbuang, yang dalam masyarakat Melayu dipergunakan sebagai alat untuk mengelap benda yang kotor.

Jadi, pantun Tudung Periuk justru mengandung pesan kepada generasi muda yang bernilai tinggi. Penafsir yang mengatakan bahwa pantun tersebut mengandung arti sebagai sikap hidup yang suka berhiba-hiba dan merajuk, salah memaknai lambang-lambang dalam pantun. Hal ini tentu akan merugikan masa depan masyarakat Melayu.

Pantun sebagai hasil kesusastraan Melayu dapat dipilah-pilah dalam lima jenis, yaitu pantun adat, pantun tua, pantun muda, pantun suka, dan pantun duka. Pantun adat menurut isinya dapat dibagi dalam pantun yang berkenaan dengan tata pemerintahan, sistem kepemimpinan, dan hukum, sedangkan pantun suka berisi ejekan dan teka-teki.

oooOooo

13 April 2008

Seorang Sahabat bagaikan mata dan tangan, Disaat mata terluka tangan mengusap, Disaat tangan terluka mata menangis